fans berat pak Marty!


yes, whatta' boss!


Peduli nggak peduli soal urusan TKI. toh yang namanya mengawasi orang yang berada diluar jangkauan itu emang sulit, dan emang ribet (dari dulu juga udah begitu).. paling nggak, tetep aja, mentri luar negeri kita ini terkece diantara mentri2 yang pernah ada mungkin ya.. dan of course dia lebih PINTER dan BERISI dibandingkan orang2 yang kebiasaan 'ikut ngegebukin' tanpa mo denger atau tau masalahnya apaan . kalo menlu sebelumnya adalah alumni hukum Harvard University - Amerika. sekarang juga gak kalah lah malah ganteeeeng nyieeeet ya allah future hsbnd saya mesti begini banget doooong ya Allah.. pleaseeeee (anaknya deh yg cowok dong mana mo tau mo tau mo tau)


*dikutip dari blog dan wikip*
Marty telah mengenal dunia internasional sejak umur 9 tahun. Keluarganya menyekolahkan dia ke Singapura setelah lulus dari SD Kris di Jakarta pada 1974. Kemudian, di Singapura, Marty bersekolah di Singapore International School (1974). Namun, kemudian pindah ke sekolah asrama setingkat SMP Ellesmere College dan Concord College, Inggris pada tahun 1981.

Marty meneruskan sekolahnya pada tingkat SMP hingga master di Inggris. Ia menyelesaikan kuliah dan meraih gelar BSc, Honours, di bidang hubungan internasional di London School of Economics and Political Science, University of London tahun 1984. Kemudian meraih Master of Philosophy in International Relations, Corpus Christi College, Cambridge University tahun 1985.
Gelar doktor Marty dapatkan di luar Inggris. Marty meraih gelar Doctor on Philosophy in International Relations dari Australian National University, Australia pada 1993.

Dia memulai karir sebagai Staf Badan Litbang, Deplu, 1986-1990. (uhuk-uhuk yang backgroundnya udah keren gini jarang2 mo balik ke sini si, padahal di luar jasanya lebih dihargai dan gak banyak yang dumelin). Kala itu, pada awal memasuki lingkungan birokrasi Deplu RI, Marty mengaku sempat mengalami cultural shock, sehingga harus banyak menyesuaikan diri, namun tedak melebur diri. Misalnya, dia melihat urusan gampang dibuat jadi susah, dilempar kiri-kanan. Karena itu, sejak hari pertama masuk Deplu, dia mengatakan tidak akan membiarkan diri terbawa arus yang tidak selalu positif ini.

Pengalamannya hidup di asrama selama sekolah di Inggris sangat berguna dalam pembentukan pribadinya yang mandiri dan bekerja dengan tim. Di asrama Inggris itu di satu pihak sangat mengutamakan senioritas, tetapi di lain pihak juga sangat egaliter dalam pengertian ada spirit tim yang sangat kuat. Ketika study di Inggris itu pula Marty bertemu seorang gadis cantik berdarah Thailand, Sranya Bamrungphong, yang juga bersekolah di London School of Economics and Political Science, University of London. Mereka pun menikah dan dikaruniai tiga anak yakni Raden Siti Annisa Nadia Natalegawa, Raden Mohammad Anantha Prasetya Natalegawa dan Raden Mohammad Andreyka Ariif Natalegawa.

Dia memberi contoh, saat putri pertamanya, Annisa, menjelang memilih universitas, memilih sekolah yang kebetulan mahal.

“Bagi kami pendidikan segala-galanya. Saya mau hidup kekurangan, tetapi pendidikan tetap nomor satu.”


p.s : damn lucky man, you're lucky to be rich. even before you're born you just already rich. but the best thing is, 'spend your money a lots to make 'that' brain.' that tradition is such a big deal. good daddy :)

2 komentar

The Ugly Book