Legalisasi Aborsi?


Ini menarik sih pro dan kontranya. ada yang berfikir ini kayak 'melegalisasikan' pembunuhan, ada yang berfikir 'ga bisa disebut membunuh, kalo prosedur yang dilakukan sesuai yakni saat janin belum berusia 2 bulan karena masih dalam kondisi fetus'
Kalo dipikir2 sih ya kalo emang tau 'ga siap' wes jangan bablas lah ndro main aman aja. tapi coba deh posisinya ada cewek diperkosa terus hamil. Kayak ga dikasi pilihan gitu untuk dia berhak 'ga nerima' kandungannya. kalo digugurin kena hukum pidana, kalo dilanjutin ada beban psikologi pada perempuannya yang ujung2nya kalo anak itu lahir realitanya bakal jadi beban mental dan finansial yang berdampak sama kehidupan anak itu sendiri nantinya, jadi deh 'anak terlantar' yang malah gedenya berlaku kriminal.Mirisnya adalah legal atau ga legalnya aborsi atau mo dikata agama "seks diluar nikah aja udah dosa gimana aborsi", sing realitanya tetep wae nggak mampu mencegah banyaknya 'praktek' yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang pada akhirnya efeknya tetep berimbas juga sama si perempuan.
Ya kalo ditanya dari sudut pandang saya pribadi mengenai ini, saya setuju aborsi itu legal asal dengan term and conditions yang berlaku. Dimana tindak aborsi diperbolehkan dengan atau tanpa alasan khusus jika dalam usia janin belum masuk 40 hari (masih fetus kalo ga salah), diperbolehkan bila yang bertindak menangani adalah tenaga medis yang sudah ada sertifikasi yang diakui pemerintah setempat (ini menyangkut safety pasien juga), dan untuk mencegah 'demokrasi kebablasan' atau 'melunjak' ya sebaiknya dikontrol dengan diberlakukannya track-record untuk menerapkan batasan yang mana aborsi itu tidak dilakukan lebih dari tiga kali oleh orang yang sama atau akan mendapatkan hukuman tertentu.
Wah ngensto yah gua ngemeng enak bener lah gua sokap!!!
intinya semua balik ke diri masing-masing dan alasan dibalik semua itu. kalo misalnya saya diperkosa mungkin saya akan prefer untuk menggugurkannya ya karna dari awal kan udah 'no' daripada gua alig. tapi ya kalo case nya adalah anti bablas bablas club ya i'll take responsible with the consequences ever the partner that i hook up with is no or bye.
Untuk berkeluarga emang harus ditunjang dari kesiapan mental yang proper dari banyak sisi. Salah satu faktor utama yang bikin mikir rata-rata ya pasti dari ekonomi. Kecuali emang mindset nya pake mindset banyak anak banyak rejeki yah atau emang lu tajir tiga sampai tuju turunan ya tu lu mah ga ada mikirnya pasti mo ngecrot jadi atau ga jadi anak uga beranak pinak kek teros bos uda kek kucing.
Realistis? ya UUD. ujung-ujungnya duit. Makanya mungkin kalo ada yang tiba-tiba hamil di luar nikah sama pacar sendiri terus mereka sepakat untuk aborsi yang pasti ada di pemikirannya tuh adalah 'ga siap' and i bet 80% porsi ga siapnya adalah dari segi ekonomi. either belum siap karna masih financially unstable, still financially depending lah with parents yang kayak "aduh nanti ortu kecewa terus gw dipecat jadi anak kita nikah terus anak makan apa", belum siap karna fokus nya masih kejer karir atau mimpi ini itu.... bukan maksud ngejudge nek, tapi apa iya yang gua mention itu bukanlah sebuah realita of the urbanization? Ngemeng-ngemeng mungkin ini korelasi nya agak ga nyambung sama judul, tapi ini video menarik untuk disimak.
so Legalisasi aborsi? I think that's not a crime if you are a sexual victim cause why don't you have a right after you lost the right? Dan tetap bukanlah kriminal juga kok buat mereka yang doing sex tapi bablas jadi anak terus ng-ogah-in. Well, I'd prefer to call it: selfish. i mean, if you can't afford the consequences why can't you just avoid it *doelahhh sinjir beli kondom ama konsul pasang KB ae masa ga mampu bosqu*

0 komentar:

Posting Komentar

The Ugly Book