Strategi 'Menjual Diri' Dengan Sertifikasi

Dari saya baru menginjakkan kaki di bandara ibukota sampai dengan saat ini, ada kira-kira sekitar 50 lowongan lebih di Jabodetabek yang sudah saya apply dan yang memanggil saya even untuk sekedar interview pun hanya terhitung jari, yang deal???? YA HITU DAH GA ADA MAKANYA INI MASIH NGANGGUR. Tapi saya masih bersyukur paling nggak masih ada satu dua freelance project yang saya kerjakan diwaktu-waktu senggang saya, ya paling enggak masih ada yang nransfer yah kak Alhamdulillah terus juga makan, tempat tinggal, bensin, jajan jajan lucu pun masi diprovide by my support system yaitu oh ayahhhhh oh ibuuuu *dasar milenial manja* *mo gimanahhh*


Kemudian saya mulai mengevaluasi diri kayak kenapa yah, perasaan waktu di Bali saya cari kerja ga gini-gini beut deh. Gaji juga saya minta sewajarnya kok, selazim-lazimnya hayati sebagai rakyat jelata, apa kegedean? Sedangkan itu aja saya nulis expected salarynya ya sesuai dengan gaji sebelumnya. Pengalaman kerja pun juga udah ada 3 tahun. Porto ya mungkin ga awesome sih standaran tapi kan banyak dan rata-rata ya bekas kerjaan-kerjaan sebelumnya. Umur juga belum tua-tua banget kok masih 27 tahun, ah tapi tua ya? eh, tua ga si? ah tau ah. Uda mana gitu seiring dengan banyaknya fresh grad yang software skill nya uda pada mulai wew dari sebelum lahir ke dunia kayaknya saya emang harus 'upgrade' deh agar mampu bersaing kompetetif. Kalo suka perhatiin lowongan pekerjaan yang menyertakan syarat ini itu, pasti sering kita jumpai kata-kata kayak 'knowledge of bla bla bla is plus'... kayaknya emang bener sih. Pengalaman itu mahal (tapi masih suka dinego uhuk ga nyindir) tapi pada era globalisasi yang tumbuh pesat dan pertambahan jumlah penduduk yang kebetulan juga semakin konsumtif, kita yang berprofesi sebagai 'penyedia jasa' pun harus bisa lebih produktif. Apalagi kalo profesi kita berhubungan dengan yang namanya teknologi, wah fix deh tu kalo kudet ya udah gitu ae stuck.

"Susahnya cari client, susahnya cari kerja...."
Lebih susah mempertahankannya sih menurut saya. Tapi ya emang gimana coba kita mo maintain trust kalo kita ga punya client atau ga punya atasan. Lebih dulu kita harus belajar memperluas relasi dan knowing how to sell ourselves. Orang toh bisa ngemeng jago speak tinggi dan orang lain yang denger juga bisa kayak ngangguk-ngangguk sok percaya.
Sama aja ibarat kayak jual rumah, "Cok, gua punya rumah nih segini bisa lo main ke rumah gua, mo gua lepas 500jt. Kalo lo ada cash, udah deh nih rumah jadi hak milik lo." ya mo itu si Ucok udah kayak sodara kembar dempet lo tetep aja doi ga main percaya percaya aja terus kasi duit. Selain dia crosscheck dulu main ke rumah lo, dia juga pasti nanyain soal sertifikasi kepemilikan gono gini kan. Ya ga jauh beda juga dong kalo kita melamar kerja. "Gue lulusan sini, gue pernah begini." maka dari itu perusahaan require you to attach the certification.

Sertifikasi secara definisi umum udah kayak semacam bukti authentic kepemilikan atau pengakuan.
Kalo kita bicara tentang sertifikasi kompetensi atau sertifikasi profesi, menurut saya itu penting loh, ibaratnya mo jam terbang lo setinggi langit ke tujuh kek ya harus ada foto nya at least lo lagi di langit ke tujuh terbang. No pic hoax gan, mudahnya ya kira-kira seperti itu.
Mau ga mau, suka nggak suka, itu udah jadi bagian dari tuntutan perusahaan. Karena secara nggak langsung itu memudahkan mereka untuk menyeleksi the validation of the authenticity, yang pastinya akan menguntungkan mereka juga lah ke depannya.
Dan juga enak ga sih kalo misalnya lo 'lagi jual diri', si interviewer nanya: "Bisa html dan css ya?" terus lo kan nggak cukup ye ngomong "Bisa, insya allah pak." @_@ ya enakan mana dengan ngomong sambil nunjukin sertifikat "Iya kebetulan saya sempat ngambil pelatihan atau semacam kursus di Dumet School untuk Web Master dan sudah lulus sertifikasinya juga, sertifikatnya sendiri juga sudah saya lampirkan kok pak pada folder dokumen saya."


Oh ya sekedar tips untuk yang mungkin berfikir untuk 'upgrade skill' satu hal yang penting dan harus dipertimbangkan, ketika kita memilih tempat pelatihan atau kursus sebaiknya ya yang sekalian yang nggak ecek-ecek sih ndok. Sekarang kan mo bikin sertifikat udah gampang ya ga si, sama aja kayak bikin surat dokter ijin sakit~ ada baiknya memilih tempat belajar yang sekalian dengan akreditasi yang baik. Ambil contoh Dumet School, tempat kursus khusus website yang punya sertifikasi resmi dari Dinas Pendidikan, jadi selain ilmu dapet ya the validation of the authenticity-nya udah pasti terjamin.


Karena kebetulan saya suka blogging dan banyak yang nanyain "bisa bikin web ga, kalo bisa gua bikin web di lo aja deh." Saya jadi tergerak untuk at least nggak hanya ngerti mendesain layoutnya tapi juga at least paham gimana cara bisa bikin website dari awal. DIH MARUK YA LO NDA, bukan... bukan maruk... tapi selama ada kesempatan untuk belajar lah ya kenapa enggak... Dibilang bisa autodidak belajar dari website atau youtube ya sebenarnya bisa aja, tapi yah kan biar konsisten dan semangatnya tinggi akan lebih baik bila dipandu langsung dong dengan mereka-mereka yang emang udah ahlinya. Kalo belajar sama temen adanya malah becanda terus, kalo belajar sendiri adanya malah browsing video yang lain, ya nggak siii. Udah mana enaknya di Dumet School tuh ya, murid bisa dateng kapan aja, jadwalnya fleksibel nggak terpatok dengan waktu dan nggak perlu nunggu kelas penuh dan enaknya bisa konsultasi seumur hidup udah kayak investasi ilmu yang menguntungkan banget ga si. Udah gitu suasana kelasnya juga santai, nggak terpatok sama waktu dan kalo mungkin lo termasuk orang yang introvert suka malu bertanya tersesat ya udah, instrukturnya ga akan diem aja bener-bener interaktif jadi ya pasti akan selalu make sure bahwa lo bener-bener paham sama materi yang sedang dipelajari. Suasana kelasnya sendiri bisa coba disimak dari video ini:



Dunia kerja di jaman sekarang sangat kompetetif, ada baiknya untuk meningkatkan kredibilitas diri agar menjadi nilai tambah untuk meningkatkan daya saing dalam mencari pekerjaan atau pun memrpospek client bagi mereka yang freelance. Mengikuti sertifikasi itu bukan hanya penting secara 'formal' sih menurut saya pribadi, namun yang diambil adalah lebih kepada ilmu-ilmu atau wawasan baru yang belum tentu bisa kita dapat dari pendidikan wajib akademis maupun dalam pekerjaan sehari-hari.

0 komentar:

Posting Komentar

The Ugly Book