#1


Diam itu lebih baik, katanya. Saya selalu menjadi pendengar. Saya bukan lawan bicara yang baik dalam hal basa-basi, tapi saya sangat menikmati obrolan yang dalam dan cenderung emosional, dalam arti... serius.


"Anaknya Pak ini sudah kerja di sini menjadi ini loh..."
"Anaknya Tetangga sekolah lagi diluar negeri dapat beasiswa..."
"Anaknya Bu ini nikah sama ini, suaminya kerja disini, ayahnya anu.."


Entah memang maksudnya adalah cerita tapi sambil sengaja menyinggung...
yang jelas, jujur saya merasa tersinggung karna menurut saya agak sedikit menyindir. Mereka mungkin tidak tahu, bahwa itu berputar di dalam benak saya. Walaupun pada akhirnya kalimatnya akan selalu berakhir dengan doa, "Solat solat ya sayang, semoga Randa begini Randa begitu." Amin.

Tapi itu terus berputar di dalam benak saya.
Yang mungkin seharusnya tidak berputar di dalam sana. Entahlah.
Tapi setiap saya merajut mimpi, mereka selalu mendukung saya... walau pada akhirnya mereka selalu meminta saya untuk berhenti... ketika rajutan itu akan segera selesai.
Pacar, pramugari sampai akhirnya Bali....


Hari ini...
Tolong kali ini dengarkan saya,

"Saya bukan orang sempurna. Ada kalanya pasti melakukan salah. Biarkan lah saya belajar dari kesalahan saya. Menjadi kuat dalam menanggung setiap konsekuesi atas pilihan saya sendiri. Lindungi saya tapi jangan kurung saya dalam sangkar ekspetasimu yang sempurna. Karena saya linglung. Saya bingung. Setengah hati jadinya saya setiap melangkah karena merasa pincang. Yang ada saat ini hanya ketakutan dan keraguan pada diri saya sendiri. Saya tau saya selalu disebutkan di setiap doa mu, tapi berikan lah saya restu, benar-benar restu... ikhlaskan saya,  biarkan saya berjalan menentukan pilihan saya dengan bekal restumu."

Belum selesai kalimat pertama dari rangkaian kata-kata di atas itu terucap, saya selalu dipotong dengan nasihat-nasihat religi.

:) Terima kasih.... untuk mengajarkan saya bahwa diam dan tetap tersenyum itu adalah lebih baik. 

Walau rasanya seperti menelan racun yang mencabik kerongkongan dan menyesakkan dada.

0 komentar:

Posting Komentar

The Ugly Book