Perfection.

what if, what matters most in this life are the lessons we learn through our suffering?

So, this question is suddenly pop-up in my head like a sudden, out of nowhere. Maybe because I was super bored right now at the office and start wondering when I can start taking my day off to visit a new island or some countries. I was like dramatically starving to take a new journey, knowing the unknown, even my boyfriend told me "Yura, you such a free-spirit. No one can rule your own world like you don't seem to need anyone because you're just happy doing what you want, but sometimes you're just being too much like can be so selfishly don't care about others cause all you wanted to see is only about you and your whole world." That word was choked me for a while, maybe because it might sound more like the truth.

And then now I have memorized all the things that I've been through in my life. Every up-side-down situation that brought me here. I have to be grateful with who I am today and what I have right now. But again, as a human, we always have a thought that enough has never been enough... which that thought brings me anxious somehow. Worrying small things like "what if" or "what's next", sure, we have to plan about what the future will bring. But in some cases, we missed a moment that we have, to embrace it or to feel glad about what we have today, right now.

I mean, you can take a look at the people who be seen like owning everything that we wanted. Example, here's a rich business guy who can make and have anything, travel to anywhere on earth, end up with a beautiful wife and kids, healthy and handsome... settle, he's just like living people dream. But what's then? He wants more.
He wants more power, so he becomes a politician. He expands his business more and more, take any opportunity as much as possible in order to make sure he's 'secure' while in fact, he's not. He's losing the moment to seeing his child growth, he emotionally less attached with a woman that he used to adore, he just fucked up, He creates boundaries from a suffer but he didn't realize he just creates his own. That thing is such a big black hole and all he's trying to do is to fill that hole. He stressed out so he gets high often, get drunk, and play with girls. Doing everything to make himself powerful while in fact he' feels powerless.

At the end what we learn is in our lifetime everyone seeks for the opportunity and avoiding the flaws. Perfection. The less you suffer or the more you suffer to find it, we just won't get it anyway. Cause back again, enough has never been enough. We always talked about 'life after death', heaven is a reward and hell is a punishment. What we missed about that where we live right now, what if the earth was heaven but it gets boring so we take it for granted by creating hell just to get fun?




Bicara tentang Patriarki




Udah lama banget nih saya ga nulis, kali ini saya mo membahas topik yang mungkin agak sensitif dan panjaaaaaaang x lebar x tinggi. Saya terpancing ketika mendengar ucapan seseorang:

"Karena memang sudah kodrat (re: bicara perempuan & laki-laki)."

Saya akui saya adalah tipikal 'a good listener' person, I can listening at people arguing over things and just standing there, in completely silent. Selain itu emang saya mager uga sih untuk debat secara langsung sama orang-orang yang punya paham yang udah teranut dalam darah daging, daripada w di ributin ye kan. Tapi ga bagus ceu, jangan kayak saya ya yang kerap kali 'menghindar konflik' kek cari aman gitu. Emang sih diam itu emas, tapi emas juga ga bakal jadi apa-apa kalo disimpen terus sampe lu lupa itu emas taro dimana. Dan sebagai seorang manusia (gw bicara sebagai manusia ya, ga pake gender dan ga pake embel anaknya anu apa sodaranya inu) saya berhak dong untuk mengeluarkan pendapat saya dalam blog pribadi di sini, dong dong dong? Keluarin lah nda biar ga mules~

Weh tapi ini bakal panjang ceu juntrungannya - w orangnya gitu soalnya.... Ok bismillah semoga ada manfaatnya ya gaes (note: gausah dibaperin yah bos tapi mohon bantu koreksi kalo ada sudut pandang atau data saya yang mungkin keliru)



Mengulik Patriarki
Sebagaimana diterjemahkan oleh Wikipedia, Patriarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kuasa utama yang mendominasi dalam peran politik, otoritas moral, hak sosial dan penguasaan properti. Dikatakan sistem sosial karena patriarki itu terbentuk oleh 'kebiasaan' yang mau ga mau jadinya terbiasa dan ya udah gitu itu jadi sesuatu yang biasa sampai akhirnya kelabel 'YA MEMANG HARUSNYA SEPERTI ITU'. Dan patriarki udah kayak fenomena sosial yang telah terstuktur sedemikian rupa di belahan negara manapun, menjadikan setiap individu wanita ditakdirkan di belakang laki-laki, bukannya (at least) sejajar.

Kalo kita mo bahas akarnya itu sebenarnya dari mana, saya kurang setuju sih kalo itu dilahirkan oleh paham agama tertentu, apalagi Islam. Coba deh lihat jauh-jauh hari sebelum itu, jauh-jauh hari dari sebelum ada teknologi bahkan masa-masa sebelum penyebaran agama terjadi. Coba bayangkan bagaimana dulunya banget proses peradaban manusia terjadi yang dimana manusia masih menggantungkan kehidupannya benar-benar kepada alam, dengan kata lain 'kalo mo makan cari ae di hutan'. Bayangkan bagaimana harus berburu, bersaing sama makhluk-makhluk lain yang juga lapar.

Ada satu tulisan yang pernah saya baca, yang menurut saya sih cukup masuk akal ya.. Bagaimana keadaannya seorang perempuan yang baru melahirkan anak harus stay di satu tempat dan belum bisa ikut berburu, yang membuat kegiatan berburu pun jadi lebih dominan dilakukan oleh laki-laki. Dengan banyaknya waktu senggang perempuan bersama anak-anaknya, mereka jadi 'bereksperimen' dengan cocok tanam dan mengolah hasil-hasil perburuan menjadi sedemikian rupa. Hmmm, bisa jadi banget berarti penemu cocok tanam atau ahli tani pertama tuh sebenarnya adalah perempuan ya... yang akhirnya seiring dengan perubahan segala macam kondisi alam yang terjadi, peradaban menjadi berkembang ke fase konstruktif-di mana orang jadi lebih memilih untuk menetap di satu tempat untuk bertahan hidup dengan pangan yang mereka tanam. Dan ketika pertanian justru menjadi sumber makanan utama, munculah berbagai inisiatif untuk menciptakan alat-alat bantu penunjang dalam bertani. Nah masa-masa ini terkenal dengan zaman Neolitikum.


Dari sini, berkembanglah pemikiran-pemikiran selanjutnya seperti konsep kepemilikan yang kemudian naik mejadi pembagian kelas. Perempuan jadi diwajibkan untuk selalu memegang pekerjaan-pekerjaan domestik, tidak boleh tidak dan tidak boleh lebih dari itu. Praktik mendominasi ini lah yang jadi akar mulanya patriarkis ini terbentuk. Intinya, patriarki bukan soal kodrat atau determinisme biologis na-na-na apalah itu ya gaes... tapi ini lebih merupakan konstruksi sosial, dan ya beda negara beda wilayah ya beda budaya dan perilaku, tapi intinya sama: wanita selayaknya ga berbeda dengan objek/properti yang memang harus dikendalikan oleh individu (laki-laki). Itu patriarki.



Patriarki dan Kebudayaan Lokal (Javanese)?
Oke kita ke negara kita, Indonesia. Kita ngomongin culture Jawa dulu aja yaa, no offense loh ini.. karena memang Jawa tergolong masyarakat kapital di Indonesia dan lagi juga info kajiannya paling banyak di literatur. Tapi emang si, kalo di Indonesia ini kebudayaan yang kental bet ama patriarki ya sorry no sorry emang jawa, cuman kesininya jadi agak mendingan seiring perkembangan Islam dan kemajuan adab. Apalagi setelah era Kartini, terima kasih ibuuuu~




Dalam pelajaran sejarah, nenek moyangnya masyarakat Jawa berasal dari China bagian Selatan yang kemudian ke Vietnam dan yang pada akhirnya berlabuh lah sampai di Pulau Jawa, mereka dikenal sebagai kaum Jawa Kuna. Kemudian sekitar tahun 300 M datanglah orang-orang India ke Nusantara dan mendirikan kerajaan-kerajaan koloni. Hal ini disertai dengan banyaknya bukti pada prasasti-prasasti yang ditemukan dengan adanya penggunaan huruf Sansekerta. Kaum-kaum ini disebut dengan Kaum Brahmana.

Pernah denger nama Aji Saka? Ia dikisahkan merupakan pangeran dari kaum Brahmana sedangkan ada yang namanya Prabu Dewata Cangkar adalah kepala suku dari kaum Jawa Kuna. Dengan adanya dua kepala ini, tidak bisa dipungkiri terjadilah konflik dan peperangan untuk pengambilan alih kuasa di wilayah-wilayah tertentu.

Banyak kisah-kisah sejarah yang berbeda versi sih, ada lagi versi lain yang berkembang dan paling dikenal yaitu Calon Arang yang dikenal sebagai seorang ratu penyihir jahat dengan aliran sesat pagan animisme dan dinamisme Jawa Kuna, ia menyembah Ibu Pertiwi yang disebut kaum Brahmana sebagai Bhtari Dhuga. Calon Arang dikenal dengan sistem anti patriarki, menempatkan kaum perempuan adalah sejajar dengan laki-laki dengan sistem matrifokus yang mana Adat-tata cara-aturan dan acuan semua tertulis dalam kitab pusaka. Dalam pewayangan dan kisah rakyat Jawa bahwa para penyembah Ibu Pertiwi ini adalah pembawa mantra pada bencana dalam sistem pangan sampai wabah atau kematian karena mereka dikenal sebagai pengabdi-pengabdi jin/setan dengan paham ritual-ritual sesajen dan semacamnya. Bahkan mereka, penyembah Ibu Pertiwi dikatakan senang mengubur bayi orok dan makan bayi orok... yang kalo kita tau jaman sekarang masih ada tu adalah "ari-ari bayi harus di kubur di belakang rumah" Nah... sungguh kearifan lokal.

Singkat cerita, anak dari Calon Arang, Ratna Manggali kawin sama pemuda murid dari Mpu Baradah, Maharesi Brahmana yang berakhir dengan hilangnya kitab pusaka Calon Arang yang berakhir dengan kekalahan sistem matrifokus atas sistem patriarkis. Dan dimana dari sini berkembanglah pula babak baru yaitu kolonialisme dan militerisme Jawa.

Coba sekarang kalo ditela'ah lagi... kenapa banget ya kok kayak laki-laki liatnya pemimpin wanita itu 'mengancam dan menakutkan' mungkin gegara sosok Calon Arang kali. Ini konteksnya kepemimpinan dalam bermasyarakat loh yah...
Belajar dari sejarah yang banyak banget kisah-kisah berkelanjutan yang diabadikan di dalam buku dengan banyak versi, dari situ banyak mitos akan perempuan yang diciptakan untuk kepentingan politik kaum-kaum raja yang jahat dengan sifat kolonialis dan militeristik yang pada akhirnya hanya menjadikan perempuan Jawa kedudukannya hanya diletakkan pada posisi inferior dengan peran domestik dan segudang tata krama dan kewajiban untuk tunduk kepada laki-laki.


Merevisi pola pikir dan budaya yang uda dari jamannya nenek moyang tuh emang butuh proses yang sangat-sangat-sangat lama. Citranya tuh perempuan (khususnya di Jawa) adalah harus lembuddd, alussss, setiaaaa, dan rela baiklah sip oke. Salah satu upaya awal untuk melawan sistem patriarki yang sudah mendarah daging adalah dengan penyetaraan hak yang dimana perempuan berhak atas pendidikan yang layak dimana untuk pengembangan potensi mereka di segala bidang (lagi-lagi terimakasih untuk Ibu Kartini). Untuk laki-laki yang ngerasa 'pas-pas'an otak-harta-dan martabatnya udah mana gitu pride setinggi tinggi langit justru ini malah jadi kayak ancaman wkwkwk ya makanya cari istri yang polos-polos ae kan maunya yang baru pada lulus sekola ga banyak bergaul biar ‘enggeh2’ wae~ E tapi jangan salah loh kalo konteksnya ngomongin rumah tangga, justru pengabdian total seorang perempuan bisa jadi strategi juga untuk mempunyai otoritas. Yang lama kelamaan suami yang akan dengan spontannya being emotionally depending with her, yang membawa pengaruh dalam mengambil keputusan-keputusan si suami.
That's why they said, "Dibalik pria-pria sukses, selalu ada wanita hebat." 


Patriarki dan Determinisme Biologis?
Oke kita sedikit geser ke science. Kita mulai dari deskripsi Determinisme sendiri. Determinisme adalah paham atau pemikiran yang menolak adanya kebebasan dalam diri manusia. Ada determinisme genetik/biologis, determinisme psikologis, determinisme sosiologis dan ga tau deh apaan lagi. Tapi yang saya mo coba kupas sekarang adalah Determinisme Biologis, yang mana ini kerap 'berperan kuat' untuk melanggengkan seksisme dalam gender role. Laki-laki dianggap lebih unggul dari perempuan karena emang udah dari sononya begitu, gitu kan yang sering didenger.


Ya, kenyataannya memang benar ada perbedaan biologis pada perempuan dan laki-laki, dari bentuk tubuh sampai hormon-hormon yang dipunya pria dan wanita udah jelas berbeda, wanita punya ovarium dengan hormon esterogen yang lebih tinggi, sedangkan  laki-laki hormon testosteronnya yang lebih tinggi dan ga punya ovarium. Terus ngomongin kromosom juga, kromosom perempuan yaitu XX sedangkan laki-laki  mempunyai dua kromosom yang berbeda yaitu X dan Y. Maka ya, secara biologis dapat diambil kesimpulan bahwa fisik laki-laki memang lebih kuat dibandingkan perempuan dan itu memang tidak bisa dipungkiri. Tapi determinisme biologis justru berkembang biak menjadi kompensasi untuk pria sebagai makhluk yang harus ditolerir dalam bertindak 'kriminal' kepada perempuan. Sering kan perempuan yang diperkosa justru malah jadi yang disalahkan? Pake istilah, kucing ga nolak kalo dikasi ikan. Nah ini, logika kasarnya kayak: Ya laki-laki emang dari sononya udah pemerkosa. Makanya jangan keluar malem-pakelah pakaian yang tertutup setutup tutupnya penutup. Okayyyy~ Kasih gua contoh negara mana yang semua perempuannya berpakaian tertutup dan dikrengkeng pake jam ronda, yang terbukti bebas dari kriminalisasi perempuan? Ada? Kalo berkiblat dengan determinasi biologis, jadi kamu setuju kalo pria dari sananya memang pemerkosa? Dari sananya tu dari mana dulu nih kalo mo play the blame jadinya mah kurang ngajar bet dong u lempar ae ke Tuhan... Tuhan nyiptain lu punya hormon rapist? 


Pembedaan karena faktor biologis membangun konstruksi tersendiri dalam gender role. Membawa pengaruh ke profesi, bidang olahraga, science, political government dll. Bahkan sampai dalam hubungan seks, perempuan yang sudah banyak tidur dengan pria dianggap wew. Sedangkan laki-laki dianggap oh ok. Pada kenyataan sederhananya ya ini gaes, gonta-ganti pasangan seksual itu tidak baik ya anak2 kan uda pada tau ya dari segi medis dan ini berlaku buat sisters and brothers lhoooo... mo lu cowo pa cewe ya tetep zinah ma zinah- terus ngapa kek kesannya cowok itu lebih ‘wajar’.

Itu dah tuh perkaranya dari determinisme biologis. Dan parahnya lagi determinisme biologis juga ampe2 bikin perkara gender role aja loh, malah juga mendasari rasisme kayak diskriminatif dan slavery pada orang berkulit gelap. Karena orang yang berkulit gelap dianggap memiliki kapasitas intelektual yang lebih rendah.

Kesimpulannya ya... kalo ngomongin biologi memang basic nya laki-laki secara fisik lebih kuat dari perempuan lah ya hiya itu emang bener. Dengan hormon-hormon yang membedakan bentuk tubuh kayak cowok numbuh jenggot, cowok suaranya lebih ngebass, cewek punya payudara, cewek melahirkan dan menstruasi. Tapi yauds itu ceu, fisik ya fisik, that's it, that's what KODRAT means loh ya, coba jangan ngelebar kemana-mana. Jangan menyalagunakan ilmu alam untuk membenarkan praktek eksploitatif pada manusia.



Patriarki dan Islam?
Nah ini. Nggak bisa dipungkiri banyak yang menggambarkan Islam adalah agama yang paling patriarkis. By the way, ngomongin aja nih tentang Rasulullah SAW. Beliau teramat jauh dari patriarki loh, terlepas dari pro dan kontra ulasan-ulasan mengenai poligami yang dilakukan Rasulullah, jangan pernah lupa bahwa pertama kalinya Rasulullah menikah adalah ketika usianya masih muda dan hartanya pun nggak sebanding dengan istri pertamanya, Siti Khadijah yang merupakan bangsawan dan business women alyas pedagang cerdas dan sukses di kala itu, dan Rasulullah lah yang dilamar duluan sama Siti Khadijah. Cah elah, kalo sekarang mah.... boro-boro, GENGSI dong coyyyy pride w mo ditaro dimana sebagai laki-laki ingat coyyyy kodrattttt-kodraatttt wkwkwkw.

Dan Ia pula istri yang dinikahi Rasulullah, satu-satunya, tanpa dimadu sampai akhir hayat Siti Khadijah.

Ketika Aisyah ingin menampakkan kelebihannya atas Khadijah, ia berkata kepada Fatimah ra., putri Nabi dari Khadijah ra.: “Aku gadis ketika dinikahi ayahmu sedang ibumu adalah janda ketika dinikahi ayahmu.” Rasulullah SAW yang mendengar ucapan ini dari putrinya yang mengeluh bersabda: “Sampaikanlah kepadanya ‘Ibuku (maksudnya Khadijah ra) lebih hebat dari engkau, beliau menikahi ayahku yang jejaka, sedang engkau menikahinya saat beliau duda.” 
Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.”
Ok, lanjut (tukan w jadi fokus dalam satu ruang)....
Kemudian sampai mana tadi... hmmm patriarki ada dalam ajaran Islam itu sendiri??? Mungkin hal ini tidak terlepas dari banyaknya tafsir-tafsir yang terdengar cenderung memojokkan kaum wanita. Islam dinilai sebagai pembawa pengaruh patriarki paling utama. Dan ya nggak bisa dipungkiri banyak banget prakteknya kok, dengan mengatasnamakan: ya kitab w ngomong begitu, lu ga pecaya lu islam paan uWeh santai bos, kita saling bertukar pandangan aja dong... biar gimanapun yang Maha Mengetahui segalanya kan adalah Allah SWT, kita mah sama manusia yang lagi sama-sama belajar untuk mencari ilmu toh. Saling berbagi dan bertukar pendapat itu lebih menyenangkan :)
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak; dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." - Q.S. An-Nisa’ (1)
Di atas adalah potongan ayat dalam surat An-Nisa, bacanya jangan satu ayat ya-baca secara keseluruhan, dan bacalah ulasan penafsirannya dari berbagai sumber. Ajaran Islam secara komprehensif telah memaparkan ekuitas antara perempuan dan laki-laki dan itu dijelaskan dalam surat An-Nisa.

Jika membaca sejarah-sejarah yang tertulis tentang peradaban sebelum Islam seperti peradaban Yunani, Romawi, Arab Jahiliyah, dkk.. setelah diturunkannya Al-Qur'an justru ini sangat 'mengamankan' kaum perempuan ke depannya, untuk kedudukan yang sama antara laki-laki dan perempuan. Dari hak untuk memilih, hak kepemilikan dan kekayaan, hak pendidikan, hak pekerjaan, dan lain-lain, telah diatur sebagaimana adilnya. It's more about equity.

the difference between equality and equity

Banyak perdebatan atas kontradiksi ayat-ayat di dalam Al-Qur'an oleh para ahli. Salah satunya tentang Adam dan Hawa sebagaimana tertulis dalam salah satu lembaran halaman buku 'Understanding Women in Islam':



Perdebatan lain terjadi tapi dalam hadis,
Rasulullah saw bersabda: Saling berpesanlah kepada kaum perempuan, karena sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan karena itu perempuan seperti tulang rusuk, jika kalian mencoba meluruskannya ia akan patah. Tetapi jika kalian membiarkan- nya maka kalian akan menikmatinya dengan tetap dalam bengkok, maka saling berwasiatlah kalian atas perempuan. (HR. al-Bukhari)
M. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan al-Qur’an menyatakan bahwa tulang rusuk yang bengkok harus dipahami dalam arti kiasan (majazi), bahwa hadis tersebut memperingatkan kepada kaum laki-laki agar menghadapi perempuan dengan bijaksana. Kiasan dalam arti sama ketika kita bilang orang yang wataknya keras tu kayak "Ni orang batu banget" tentu bukan berarti orang itu adalah batu kan yak. Ada tafsiran lain juga yang menjelaskan bahwa Hadis ini mengemukakan tentang kelebihan perempuan yang tidak dimiliki oleh laki-laki, yaitu lebih perasa.

Yaudah, biarkan itu jadi perdebatan para ahli-kita mah apa atuh cuman bisa jadi pembaca doang. Tau kan ya kenapa ampe ada sekolah-sekolah tinggi yang khusus mengkaji Al-Qur'an. Karena isinya sendiri memang rumit dan setiap penafsiran memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Kalo katanya seorang teolog muslim ternama, secara historis penafsrian Al-Qur'an harus disesuaikan dengan kondisi dan konteks pada saat itu-melihat dari esensial Qur'an adalah respon dari konteks yang ada.
Di sini w ga mo sotoy ya karena saya cukup sadar diri kok ilmu agama saya ga ada apa-apanya dibandingkan para suhu. Tapi ya lagi-lagi saya hanya mengemukakan sudut pandang saya aja yak dan dari yang saya tau ae jadi monmaap ga maksud apa2-Anda bebas untuk tidak setuju dan mengoreksi. Saya pribadi melihat ajaran Agama Islam kebanyakan malah udah 'remix' dari budaya daerah dan konstruksi sosial yang terjadi dari tahun ke tahun. Jadi nyaru ceu, ajaran Islam yang beneran islam ga kebumbu2 budaya dan sosial yg mana si???? Ya karna tbh, sering terjadi ae atributnya aja Islam-apa2 mengatasnamakan Islam, padahal mah manusia kerdus ga mo susah mo banyak untung ena-ena' terus.

Dan pada akhirnya: Tuhan menilaimu dari amal baikmu di dunia dan ketakwaan kita kepadaNya, ga peduli lu cowo apa cewe, manusia adalah sama. Udah si gitu ae.



---- KESIMPULAN ----


Nih ya kalo dipikir-pikir, kalo emang bener terbukti laki-laki itu lebih logis dalam mengambil keputusan sedangkan wanita itu cenderung lebih mengandalkan perasaannya untuk hal apapun... pada intinya, bukan soal siapa yang harus lebih dominan atau siapa yang berhak dan siapa yang wajib ga wajib, but it's more about we need each others to make a balance ya ga sih. Kebanyakan pake akal bisa bikin kita kehilangan hati nurani, terlalu mengandalkan perasaan bisa bikin kita jadi ga realistis. Ga usah dibikin ribet hidup u semua, cherish every moment of it ae~

So that's it, you both as a partner who complete each other, now stop thinking to compete with each other. Together we can make a better world! 

Newsletter